Rabu, 18 September 2019

Warrtawan Diharapkan Kembangkan Jurnalisme Damai

Lhokseumawe  (ANTARA News) - Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengharapkan wartawan, utamanya anggota PWI agar terus mengembangan semangat jurnalistik damai di kalangan wartawan, sehingga masyarakat bisa menikmati kondisi keamanan yang semakin kondusif di daerah tersebut.

"Dalam situasi Aceh yang cukup 'panas' menjelang pilkada, semangat jurnalistik damai harus terus diperkuat, sehingga wartawan tidak menjadi bagian yang turut memperkeruh keadaan," kata Gubernur dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekda Aceh Setia Budi pada pembukaan Konferensi kerja cabang PWI Aceh di Lhokseumawe, Jumat malam.

 

Pada acara yang turut dihadiri Wali Kota Lhokseumawe Munir Usman dan pejabat setempat, Gubernur juga menyampaikan wartawan sangat berandil besar untuk menciptakan perdamaian yang sedang berlangsung di daerah ini, sehingga perlu terus dipertahankan.

Ia berharap agar wartawan menyajikan berita-berita yang menyejukkan, sehingga masyarakat tidak mudah terpancing dengan adanya pemberitaan yang memojokkan kelompok tertentu.

Disebutkan Gubernur, salah satu cara untuk mengukur kualitas demokrasi di sebuah negara adalah dengan melihat kebebasan dan kualitas persnya.

Pers yang bebas dan berkualitas tentulah menjadi tanda bahwa demokrasi di negara itu berkualitas. Sebaliknya, pers yang terbelenggu dan cenderung menyampaikan informasi kurang transparan, merupakan gambaran walau negara itu tidak memiliki sistem demokrasi yang baik, katanya.

Dengan demikian, wartawan menjadi bagian dari percepatan pembangunan dan demokrasi melalui pemberdayaan masyarakat.

Di sinilah pentingnya kompetensi wartawan sehingga mampu melahirkan karya jurnalistik yang berguna, tambah Gubernur Irwandi.

Wartawan tidak hanya sekedar profesi atau lapangan pekerjaan bagi para pekerjanya, tapi juga memiliki tanggungjawab moral, karena pekerjaan ini merupakan salah satu parameter untuk kesuksesan pembangunan dan demokrasi. Makanya sekali lagi, kompetensi bagi wartawan menjadi sangat penting, ujar Irwandi.

Kompetensi bermakna seperangkat kemampuan dan keterampilan untuk melakukan suatu tugas atau fungsi tertentu. Jadi, wartawan yang kompeten adalah yang memiliki kecakapan, kemampuan, dan keterampilan, sehingga punya kewenangan untuk melaksanakan tugas, katanya lagi.

Dikatakan, kompetensi wartawan memerlukan pengembangan, peningkatan dan pengasahan seiring dengan kemajuan bidang teknologi informasi dan dinamika sosial masyarakat yang sedemikian pesat.

Salah satu yang berperan dalam pengembangan kompetensi wartawan adalah organisasi profesi yang menaunginya. Organisasi wartawan menjadi wadah pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan dan pelatihan. "Inilah misi penting yang kami harapkan bisa dijalankan oleh PWI," tutur Irwandi.

Sebagai organisasi tertua dan memiliki anggota yang paling banyak di Indoensia, sudah tentu PWI punya tanggungjawab moral untuk mengembangkan kompetensi ini, sehingga karya-karya jurnalistik yang dibaca masyarakat tidak dihasilkan serampangan, tapi keluar melalui hasil racikan para jurnalis handal, katanya.

Dengan demikian, karya jurnalistik tidak hanya semata-mata mempertimbangkan faktor pasar, tapi juga memiliki tanggungjawab moral terhadap dampak pemberitaan itu terhadap lingkungan dan situasi politik, katanya.

Pada bagian lain, Gubernur juga menyambut baik rencana PWI yang ingin melahirkan sekolah jurnalistik di Aceh.

"Kita berharap sekolah wartawan yang didirikan PWI Aceh itu benar-benar bermutu dan memiliki trainer yang matang dalam pengalaman dan ahli dalam pendidikan," kata Gubernur Irwansi Yusuf.  
(T.ANT-287/H011)