Selasa, 12 November 2019

Dahlan Iskan, Wartawan Jadi Menteri

Jakarta (ANTARA News) - Berpenampilan sederhana, bicara apa adanya, tidak memilih-milih siapa yang menjadi lawan bicara, selalu ceria dalam setiap kesempatan..., demikian gambaran Dahlan Iskan, sosok yang baru saja mendapat kerpecayaan Presiden menjadi Menteri BUMN.

Dahlan yang sebelumnya menjabat Direktur Utama PT PLN, pada Senin (17/10) sekitar pukul 12:30 WIB ditunjuk menggantikan Menteri BUMN Mustafa Abubakar dalam kebijakan "reshuffle" Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yang ditempuh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sosok Dahlan Iskan memang sudah tidak asing lagi di mata publik. Saat pembentukan kabinet pada Oktober tahun 2009, nama pria kelahiran Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951 ini sempat diisukan masuk bursa calon menteri, namun tidak terwujud.

Dahlan justru pada 23 Desember 2009 didaulat menjadi nakhoda PT PLN, perusahaan strategis yang menerima subsidi paling besar, tetapikerap menjadi sarang korupsi dan pemborosan keuangan negara.

Sejak memimpin perusahaan setrum milik negara itu, Dahlan langsung membuat sejumlah gebrakan seperti menghilangkan "byar pet" dalam waktu enam bulan, dan gerakan "sehari sejuta sambungan". Ia juga memprakarsai penyelesaian program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya di 100 pulau pada 2011.

Tidak cukup sampai di situ, suami Ny Nafsiah ini tanpa tedeng aling-aling mengeluarkan jurus penghematan anggaran yang dianggap tidak perlu di PLN seperti mengurangi biaya perjalanan dinas, penghematan penggunaan listrik di kantor PLN hingga peniadaan tunjangan atau fasilitas tertentu bagi pejabat perusahaan.

Perjalanan karir Dahlan hingga dipercaya menjadi Menteri BUMN cukup panjang.

Tahun 1975 ia bekerja sebagai reporter magang pada sebuah surat kabar di Samarinda, Kalimantan Timur. Setahun kemudian Dahlan menjadi wartawan Majalah Tempo. Namun sejak tahun 1982 Dahlan dipercaya memimpin Jawa Pos, surat kabar terbesar di Jawa Timur.

Dengan sentuhannya Jawa Pos yang hampir tutup dengan oplah sekitar 6.000 eksemplar per hati melejit menjadi 300.000 eksemplar.

Memasuki 1997, ia mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya dan kemudian gedung serupa di Jakarta.

Sukses membesarkan Grup Jawa Pos, Dahlan mendirikan perusahaan pembangkit listrik di Kalimantan Timur dan Surabaya, serta perusahaan pembangunan Sambungan Komunikasi Kabel Laut.

Pada tahun 2002 Dahlan memperluas jaringan medianya dengan membentuk Jawa Pos News Network (JPNN) melalui pendirian stasiun JTV di Surabaya, yang kemudian membuat jaringan televisi lokal seperti Batam TV, dan Riau TV.

Pengalaman Dahlan sebagai wartawan, pemilik media, dan sejumlah perusahaan lainnya tidak lantas membuatnya sombong.

Di mata para wartawan, Dahlan yang masuk kategori konglomerat media ini, merupakan petinggi BUMN yang bersahaja. Dalam kesehariannya jarang terlihat mengenakan jas seperti direksi BUMN pada umumnya.

Ia gemar mengenakan kemeja putih, celana panjang dan sepatu casual, jauh dari kesan formal.

Semua pertanyaan wartawan hampir seluruhnya dijawab dengan lugas, terbuka atau tidak ada yang ditutup-tutupi. Ini menunjukkan ia tidak pelit berbagi berita kepada media.

Bahkan, pada beberapa kesempatan Dahlan sendiri yang menghampiri jurnalis dan tidak segan-segan duduk di lantai

Benahi BUMN

Dahlan yang sejak mahasiswa membenci birokrasi dan praktik korupsi tersebut kini didapuk menjadi Menteri BUMN.

Sebelumnya nama Dahlan bersaing dengan Kepala BKPM Gita Wirjawan yang kini menjadi Menteri Perdagangan.

Dahlan menganggap jabatan Menteri BUMN merupakan amanah yang harus diemban demi bangsa dan negara.

Saat memberi keterangan pers di Kantor Kepresiden Dahlan mengakui sesungguhnya dirinya belum ingin meninggalkan PLN, karena menurutnya teman-temannya saat ini sedang semangat-semangatnya bertugas.

Di mata anak buahnya, pria berkacamata ini dikenal sebagai pribadi yang lucu karena kerap melontarkan guyonan-guyonan segar dan hangat.

Doa dan dukungan terhadap Dahlan yang sudah menjalani cangkok hati ini terus mengalir.

Direktur Operasi PLN Indonesia Timur, Vickner Sinaga mengatakan penunjukan Dahlan sebagai Menteri BUMN merupakan keputusan yang terbaik bagi bangsa dan negara.

"Bangga bercampur sedih... karena visi PLN dengan Dahlan Iskan sudah menjadi satu dalam menangani masalah kelistrikan nasional.

Doa untuk Dahkan juga terucap agar Dahlan diberikan kekuatan dan kesehatan dalam menjalankan tugas-tugasnya.

Masa pengabdian Dahlan dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II dalam membenahi BUMN mungkin "hanya" sekitar 3 tahun, namun sejumlah kalangan menaruh harapan besar Dahlan dapat membenahi BUMN agar menjadi perusahaan milik negara yang mampu memberikan kontribusi terhadap APBN.

Untuk itu dibutuhkan kapasitas kerja yang luar biasa besar karena harus mengawasi sekitar 141 perusahaan dengan ragam bidang usaha, ratusan anak perusahaan BUMN, sekitar 6.000 direksi dan komisaris serta ratusan ribu karyawan dan termasuk para pemangku kepentingannya.

Hingga awal 2011 total aset BUMN mencapai kisaran Rp2.500 triliun-Rp3.000 triliun, dengan total pendapatan berkisar Rp1.000 triliun.

Ekspektasi semua kalangan kepada BUMN memang besar, karena merupakan salah satu pilar mendorong perekonomian nasional yang tercermin dari setoran terhadap APBN, menciptakan lapangan kerja, pelaksanaan publik service obligation (PSO), perintis daerah-daerah terpencil, dan pendorong usaha kecil menengah.

Pengamat BUMN Muhammad Said Didu mengatakan, Dahlan Iskan merupakan figur tepat dalam memimpin Kementerian BUMN karena memiliki integritas yang tinggi.

"Sesuai dengan latar belakangnya sebagai seorang pemimpin korporasi, Dahlan juga dapat berkomunikasi dengan Presiden sehingga dapat mengurangi intervensi non-korporasi dari pihak lain terhadap BUMN," ujar Said.

Dahlan Iskan juga dinilai memiliki gaya kepemimpinan yang elegan, yang mampu menghindarkan BUMN sebagai sapi perahan.

Sementara itu pengamat ekonomi dari Universitas Airlanga Dr Tjuk Sukiadi menyatakan, Dahlan Iskan harus berani menolak intervensi dari pihak mana pun.

"Profesionalitas, kapabilitas dan pengalamannya mengelola perusahaan tidak diragukan lagi. Tapi, bila Dahlan ingin berhasil dalam bertugas, kuncinya satu, yaitu menolak intervensi dari mana pun," kata Tjuk.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menilai Dahlan berpengalaman memimpin korporasi dan pandai dalam mengambil keputusan.

"Saya melihat beliau memiliki kapasitas, integritas dan merupakan pekerja keras," kata Hatta. (*)


(Ditulis oleh Royke SInaga)