Selasa, 12 November 2019

Jasad Prabangsa Diaben Massal

Persatuan Wartawan Indonesia
(repro: unerco.org)
 
Bangli (ANTARA News) - Jazad almarhum Anak Agung Prabangsa, wartawan Radar Bali yang tewas dibunuh, diaben atau dibakar dalam prosesi ngaben secara massal di Banjar Pande, Keluharan Cempaga, Kabupaten Bangli, Bali.  

"Almarhum Agung Prabangsa tahun ini memang diikutkan dalam pengabenan massal di Banjar Pande Bangli pada 17 September 2011," kata Agung Samudra Dinata, adik kandung almarhum di Bangli.

Ia mengharapkan setelah mengikuti upacara itu, rohnya lebih nyaman dan tidak terlunta-lunta lagi.

Dengan mengikuti ngaben massal, rasa kebersamaan di Banjar akan terjalin, disamping biayanya lebih ringan juga suasana gotong royong bisa terjalin.

"Untuk biaya dia mengaku tidak tahu persis, namun jelasnya tidak menghabiskan puluhan juta jika dibandingkan dengan pengabenan 'newek' atau sendiri-sendiri," jelasnya.

Ketua  Adat Cempaga yang juga Penasehat Upacara Pengabenan, I Wayan Nyepek menuturkan upacara ngaben  massal di Banjar Pande sudah merupakan agenda tetap setiap tiga tahun sekali.

"Upacara ini  untuk ketiga kalinya diselenggarakan," jelasnya.

Kegiatan ngaben massal tahun ini terdapat puluhan sawa yang akan diupacarai.

"Upacara ngaben identik dengan prosesi pembakaran jasad atau mayat, untuk kegiatan 'ngagah' atau menggali kuburan akan dilaksanakan dua tahap yakni sehari dan bertepatan dengan hari H upacara," ujarnya

Ia mengaku saat ini suasana di bale Banjar Pande yang kesehariannya sepi kini terlihat ramai setelah dipergunakan sebagai pusat upacara pengabenan

Prabangsa adalah korban pembunuhan karena pemberitaan yang dibuatnya untuk harian Radar Bali. Aktor intelektual dan para pembunugnya telah dijatuhi vonis hukuman penjara, yakni Susrama, Komang Gede, Nyoman Rencana, I Komang Gede Wardana (Mangde), Dewa Sumbawa, I Wayan Suecita, Gus Oblong, Endy, dan Jampes.  (*)