Rabu, 20 November 2019

Dewan Pers: Ada Mafia Kasus Pembunuhan Ridwan

Persatuan Wartawan Indonesia
Bambang Harymurti

Jakarta  (ANTARA News) - Wakil Ketua Dewan Pers, Bambang Harymurti, mensinyalir ada indikasi keterlibatan mafia hukum dalam proses pengadilan kasus pembunuhan wartawan SUN TV Ridwan Salamun saat meliput konflik di Tual, Maluku.

"Ada indikasi kuat ada mafia hukum dalam penanganan kasus pembunuhan wartawan SUN TV Ridwan Salamun di Tual, Maluku," katanya di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat.

Menurut Bambang, Ridwan Salamun yang dibunuh dengan menggunakan parang dan pipa saat meliput tugas jurnalistik pada 21 Agustus 2010, tidak mendapatkan keadilan dari para penegak hukum.

Tiga terdakwa pembunuhnya hanya dituntut delapan bulan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Jafet Ohello, dalam persidangan di Pengadilan Negeri Tual.

"Masa' pembunuhan disamakan hukumannya dengan maling ayam, delapan bulan penjara, padahal bisa dituntut maksimal lima belas tahun penjara," katanya.

Ia menambahkan, kalau hal ini berlanjut, maka pembunuhan terhadap wartawan akan semakin marak. "Para penjahat tidak perlu takut lagi, mereka toh cuman dihukum delapan bulan, sinyal buruk bagi kebebasan pers, terutama di Maluku," katanya.

Untuk itu, pihaknya akan melaporkan secara resmi ke Kejaksaan Agung dan juga ke Satgas Pemberantasan Mafia Hukum. "Kita akan mencari waktu yang pas, secar formal akan melaporkan ini," katanya.

Sementara itu, Koordinator Maluku Media Centre, Insyani Syahbarwaty, mengatakan bahwa penanganan kasus ini sejak awal telah terjadi keanehan.

Ia mengungkapkan, awalnya kasus pembunuhan terhadap wartawan SUN TV saat meliput bentrok di Tual, Maluku pada 21 Agustus 2010 lalu, BAP di kepolisian, Ridwan dinyatakan bukan sebagai wartawan yang meliput, namun sebagai warga yang turut bertikai dan menyerang warga lainnya.

Tetapi, hal itu kemudian berubah, setelah Komnas HAM turun ke lapangan dan menemukan sejumlah penyimpangan. Ridwan kemudian dinyatakan sebagai korban yang dibunuh.

Ia mengungkapkan dalam temuan Komnas HAM, sejumlah saksi mata menyaksikan Ridwan Salamun membawa kamera untuk meliput bentrokan dan tidak membawa parang.

Rizal Salamun, saudara sepupu Ridwan menyaksikan Hasan Jais memukul Ridwan dengan kayu, lalu Ibrahim Raharusun memukul dengan pipa dan Kuasa Rahrusun menginjak korban. Selain itu, ada 17 saksi yang memberatkan tiga tersangka tersebut.

"Namun, sayangnya tidak ada satupun yang di BAP," katanya.

Ia menambahkan, berkas P21 yang dilimpahkan ke Kejari Tual, menurut Kapolres Tual AKBP Saiful Rahman pada 21 Oktober 2010 dalam keterangan pers, polisi menjerat para terdakwa dengan pasal 338 dan 351 ayat 1.

Namun, jaksa penuntut umum kemudian menjerat denga pasal 170 ayat 2 dan 3 subsider pasal  351 ayat 2 jo pasal 55 KUHP, tentang penganiayaan dan pembunuhan dengan hukuman maksimal 12 tahun penjara.

"Lebih aneh lagi saat jaksa menuntut dengan tuntutan hukuman hanya delapan bulan penjara, atau mirip maling ayam. Ini sungguh tragis. Ada indikasi mafia disini, bagaimana hal itu bisa terjadi," katanya. (*)