Rabu, 18 September 2019

Salam Kebebasan Pers

KUPANG, PosKupang.Com -- INSAN pers Republik Indonesia kembali memperingati Hari Pers Nasional (HPN), hari ini, Rabu (9/2/2011). Para pengelola media massa, cetak maupun elektronik, pimpinan organisasi kewartawanan dan para wartawan dari seluruh penjuru Tanah Air berkumpul di Kupang untuk merayakan HPN ke 65. Selamat Hari Pers Nasional!

Kita ketahui bahwa kiprah pers nasional sudah ditoreh sejak jaman penjajahan Belanda dan Jepang. Pers tampil di posisi terdepan dan strategis membangkitkan semangat nasionalisme melawan penjajah. Bahkan kabar tentang kemerdekaan RI sampai ke seluruh penjuru dunia lewat "corong pers" saat Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan RI lewat Radio Republik Indonesia (RRI),  17 Agustus 1945.

Perjalanan pers pun terus mengikuti dinamika politik, ekonomi, sosial budaya dan tetap eksis memainkan perannya disesuaikan dengan kondisi jaman; sejak Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi.

Pers Indonesia terus mengambil bagian dalam upaya penegakan hukum dan keadilan, pemberantasan korupsi dan upaya peningkatan ekonomi rakyat dalam memerangi kemiskinan. Fungsi kontrol sosial pun terus dijalankan oleh pers melalui infomasi-informasi kepada khalayak luas. Fungsi kontrol pers sungguh menjadi sebuah keniscayaan untuk mencegah dan meminimalisir penyalahgunaan kekuasaan.

Dalam menjalankan fungsi pewartaan untuk memberi informasi, edukasi, kontrol sosial dan hiburan itu, pers pun masih berjuang untuk tetap melaksanakan tugas dan fungsinya secara bebas. Indeks kemerdekaan pers di Indonesia belum menunjukkan angka peningkatan yang baik. Pada tahun 2001, misalnaya, indeks kemerdekaan pers Indoneisa berada di urutan 57 dari 139 negara. Tahun 2008 peringkat 111 dari 173 negara.

Kemerdekaan pers juga belum mendapat apresiasi yang baik dari pengambil kebijakan, bahkan masyarakat. UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers belum sepenuhnya berhasil menegakkan kebebasan pers seperti yang diharapkan.

Selain itu, pers pun menghadapi kendala dari dalam yang tak kalah hebatnya, dalam menegakkan kebebasannya. Insan pers belum dihargai sebagai pekerja profesional. Profesi wartawan (insan pers) masih "disejajarkan" dengan buruh yang terbukti pada standar pengupahan yang masih mengacu pada upah minimun regional. Berbeda dengan penghargaan terhadap profesi-profesi lain seperti dokter, perawat dan lain-lain.

Selain masalah kesejahteraan, intervensi pemilik media (perusahaan pers) terhadap karya-karya jurnalistik pun masih membelenggu kebebasan para wartawan untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan sesuai hati nuraninya.

Di Indonesia, hanya segelintir kecil perusahaan pers yang benar-benar memperhatikan kesejahteraan wartawannya. Gaji tidak hanya cukup untuk wartawan tetapi cukup untuk keluarganya. Maka tak heran, masih banyak insan pers yang "tersesat" di tengah perjalanan melaksanakan tugas jurnalistiknya. Tidak sedikit wartawan yang dengan mudah "diatur" oleh sumber berita akibat kesejahteraannya yang masih bermasalah.

Begitu banyak wartawan yang masih bergulat memenuhi kebutuhan harian di keluarganya di tengah kesibukan menjalankan profesi jurnalistiknya. Sungguh, ini tantangan terberat bagi insan pers dalam menegakkan kebebasan pers di Tanah Air.

Tantangan dari luar pun tak kalah peliknya. Kekerasan terhadap para wartawan masih terus terjadi. Tahun 2010, setidaknya ada tiga wartawan yang terbunuh. Belum terhitung jumlah wartawan yang menjadi korban tindak kekerasan atau ancaman kekerasan dan tindakan- tindakan tidak patut saat melaksanakan tugas-tugas jurnalistik.

Melaksanakan peliputan-peliputan beresiko pun, begitu banyak wartawan yang hanya berharap pada mujizat agar bisa kembali ke kantor/rumah dengan selamat. Kalau pun terjadi sesuatu, belum banyak perusahaan pers yang mengasuransikan wartawannya.

Inilah potret pers kita yang sebenarnya. Tidak perlu ditutup-tutupi. Sebab pada hari bahagia ini kita mesti bercermin pada kaca yang bening agar tampil wajah kita yang sesungguhnya, bukan wajah yang semu. Senyum harus mekar dari hati yang bahagia. Kebebasan dan kemerdekaan harus lahir dari hati agar menghasilkan karya jurnalistik yang bernas dan bermartabat. Selamat Hari Pers Nasional. Salam kebebasan pers! *