Selasa, 17 September 2019

Wartawan Itu Panggilan

KUPANG, PosKupang.Com - "MENJADI wartawan itu panggilan. Jika tidak ada panggilan, maka tidak bisa jadi wartawan. Bagi saya, wartawan adalah pekerjaan mulia. Ini adalah panggilan jiwa saya." Demikian Jack Adam memaknai profesi wartawan.

Om Jack menjadi wartawan pada tahun 1975, saat usianya 22 tahun. Minat itu tumbuh diawali karena kecintaannya terhadap sastra, antropologi dan sejarah, sewaktu masih duduk di bangku sekolah menengah atas.

"Suatu ketika saya mengirim artikel ke suatu media, dan diturunkan. Saya baca, ternyata tulisan saya tidak berubah banyak. Hal itu memotivasi saya untuk terus menulis dan menjadi wartawan," kata Om Jack, demikian Jack Adam, saat dtemui di kediamannya, Jumat (4/2/2011).

 

Om Jack pertama kali menjadi wartawan Suara Karya. Setelah empat tahun bekerja (1975-1979), pindah ke Sinar Harapan. Pada tahun 1986, bekerja sebagai wartawan Suara Pembaruan, dan pensiun tahun 2002. Ia sempat bergabung dengan beberapa media lain, diantaranya Suara Indonesia, bertugas di Malang selama delapan bulan.

Pertama kali menjadi wartawan, sesungguhnya Om Jack sudah bekerja di kantor Gubernur NTT. Namun, karena talenta menulisnya lebih dominan, ia melepas pekerjaan itu dan menjadi wartawan.

Sebagai wartawan senior, sudah tentu Om Jack memiliki segudang pengalaman. Salah satunya, sampai saat ini tersimpan indah dalam memorinya, yaitu meliput bencana kelaparan di Pulau Sumba pada Mei 1979.

"Saya mendengar ada kelaparan di Pulau Sumba. Sebagai orang yang pernah hidup di Sumba, makan beras dan minum air Sumba, saya merasa terpanggil mencari tahu. Saya berangkat ke Sumba meskipun dalam kondisi sakit. Setelah sampai, saya berkeliling Sumba dengan menunggang kuda. Meski berat dan sulit, tetap saya lakukan karena saya memiliki pikiran bahwa mereka yang menjadi korban adalah keluarga saya, pacar saya, istri saya, adik kakak saya. Inilah membuat motivasi saya semakin tinggi," ujar Om Jack.

Hal yang membanggakan Om Jack adalah, berita kelaparan menjadi referensi dan mendapat respon positif. Presiden Soeharto turun langsung ke Sumba untuk melihat dan memberi bantuan kepada korban bencana kelaparan. "Ada rasa senang dan bahagia. Semua capek hilang ketika ada tanggapan dari pemerintah khususnya dari Presiden Soeharto yang melakukan kunjungan langsung ke Sumba untuk melihat kelaparan," kata  pria kelahiran Sumbawa Besar, 18 Oktober 1952 ini.

Suami Afliana Salean yang hobi koleksi Alkitab berbagai bahasa ini, mengatakan, dengan menjadi wartawan membuatnya bisa menapaki sebagian besar daerah Indonesia.

Om Jack mengingatkan, seorang wartawan harus memiliki moralitas dan integritas. Kejujuran, kesetiaan pada tugas dan insting juga menjadi bagian dari profil dasar wartawan. Selain itu, wartawan jangan cepat puas dengan apa yang sudah dicapai.

Menurutnya, wartawan juga harus bisa otokritik. Kritik terhadap diri sendiri. "Bagaimana bisa mengeritik orang lain kalau tidak bisa kritik diri sendiri. Misalnya, kita pergi wawancara narasumber dengan celana robek, siapa yang mau menghargai kita kalau berpakaian seperti itu? Kita sendiri tidak menghargai diri sendiri," kata Om Jack.

Om Jack juga mengingatkan, wartawan jangan takut dengan masa depannya. "Burung tidak pernah menanam tetapi bisa menuai. Apalagi kita sebagai manusia, jadi jangan takut dengan masa depan," ujarnya.

Selepas pensiun dari Suara Pembaharuan, Om Jack tidak berhenti menulis. Saat ini ia sedang merampungkan novelnya berjudul Serasa. "Saya sudah putuskan menjadi wartawan hingga Tete Manis panggil saya pulang. Ini adalah panggilan jiwa saya," kata Om Jack. (ira/aca)