Rabu, 18 September 2019

HPN dan Makna Kedatangan Presiden

Oleh  Lasarus Jehamat, Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang

Kupang (Pos Kupang) - MINGGU depan, presiden akan datang ke Kupang dalam rangka perayaan puncak Hari Pers Nasional  (HPN) 2011. Tak tanggung-tanggung, kepala negara akan tinggal di Kupang selama tiga hari (8-10 Februari 2011). Presiden pun akan berkantor di Kupang dalam rentang waktu tersebut. Sebagai warga NTT kita tentu senang dan bangga bahwa orang nomor satu di negeri ini mau menetap begitu lama di sini.  Berkaitan dengan HPN dan kedatangan Presiden RI di Kupang, pertanyaan penting yang diajukan di sini adalah apa makna kedatangan sang presiden di NTT?

 

Melampaui Artifisial
Sulit dibantah jika kedatangan Presiden RI ke NTT berhubungan dengan perayaan puncak  HPN. Malah, perayaan HPN merupakan faktor pemicu kedatangan beliau. Atas dasar itu, kita semua wajib memberikan apresiasi kepada insan pers NTT dan nasional yang telah berjuang menetapkan Kupang sebagai tempat pelaksanaan perayaan puncak HPN. Karena upaya dan kerja keras insan perslah maka presiden mau ke NTT dan tinggal agak lama bersama kita masyarakat NTT. Sampai pada batas ini, peran pers sebagai media perantara antara negara dan masyarakat mendapat kepenuhannya. Soal berikutnya adalah bagaimana pemerintah dan masyarakat NTT memanfaatkan dan memaknai momen ini untuk tujuan produktif?

Jika kita mengamati berbagai bentuk persiapan yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat, tampak jelas bahwa sebagai tuan rumah yang baik, kita telah memoles rumah kita menjadi tempat yang nyaman bagi para tamu. Di sudut-sudut kota, berbagai spanduk dan baliho berukuran besar bertemakan HPN telah terpampang tegap dengan sentuhan desain modern. Belakangan diketahui bahwa setiap SKPD di tingkat propinsi diminta secara sukarela untuk menyediakan spanduk dan baliho tersebut. Di jalan-jalan protokol, perbaikan lampu jalan hampir selesai dilakukan. Di taman kota, penataan taman menjadi prioritas utama. Senang rasanya melihat tanam kota yang telah ditata rapi, indah, elok dan memikat hati. Saking senangnya, teman saya berguman, "Andaikan presiden datang tiap hari ke NTT, mungkin dalam waktu sebulan saja, NTT telah menjadi sama seperti daerah lain di Indonesia."

Tanpa mengurangi rasa hormat kita atas kerja keras dan jerih payah panitia dan terutama pemerintah propinsi dan Kota Kupang, berbagai kegiatan dan persiapan di atas hemat saya akan lebih bermakna bila berbagai persiapan tersebut tidak hanya sekadar sebagai kegiatan temporer, sesaat, dan insidental belaka. Berbagai persiapan tersebut hendaknya tidak terjebak dalam kegiatan simbolis dan artifisial semata. Sebab, perbaikan lampu jalan dan menata taman kota misalnya (lepas dari kesungguhan hati dan niat baik pemkot) mudah dibaca sebagai kegiatan yang sarat berciri Asal Bapak Senang (ABS). Kemudian masyarakat menilai, program tersebut kental bernuansa simbolis, basa basi, serba kebetulan dan aji mumpung; kebetulan bertepatan dengan momen HPN dan kedatangan presiden, mumpung presiden datang. Penilaian seperti ini bisa saja muncul akibat apatisme pemerintah selama ini dalam menghasilkan kebijakan yang pro rakyat.

Ruang Refleksi
Guna menepis anggapan seperti itu maka HPN dan kedatangan presiden harus dijadikan ruang refleksi bagi para elit dan pengambil kebijakan di daerah ini. Pertama, Kedatangan presiden dalam rangka HPN 2011 harus dibaca sebagai momen potensial untuk menunjukkan jati diri asli masyarakat NTT dan bukan lagi kamuflase murahan ala orde baru. Harus dipahami bahwa menunjukkan keaslian jati diri kita jauh lebih produktif ketimbang kita harus menyembunyikan identitas keaslian kita. Konsep penerimaan presiden secara adat berikut pagelaran berbagai tarian adat dan kegiatan budaya dengan menampilkan berbagai budaya daerah di NTT yang  akan dilakukan panita hemat saya patut diacungi jempol.

Kedua, HPN dan kedatangan presiden hendaknya menjadi titik pijak bagi para elit dan para pembuat kebijakan di daerah ini untuk lebih memperhatikan politik kesejahteraan ketimbang terjebak dalam politik citra semata. Melihat kesibukan panitia dan juga pemerintah dalam memperbaiki fasilitas umum terkait dengan HPN rasa-rasanya menggugah kembali kesadaran kolektif masyarakat bahwa toh ternyata pemerintah dan elemen masyarakat sipil (pers) bisa berbuat dan bekerja sama  untuk masyarakat. Kesadaran kolektif yang berciri positif tersebut bisa tetap tumbuh subur di ruang kesadaran masyarakat seandainya kemauan dan niat baik pemerintah tidak hanya berhenti pada HPN kali ini saja atau karena kedatangan presiden semata.

Ketiga, semangat perbaikan fasilitas umum (lampu jalan dan taman kota) dalam rangka HPN dan kedatangan presiden harus dikonversikan dan diperluas pada bidang-bidang lain. Energi yang sama hendaknya bisa transformasikan untuk memperbaiki jalan yang rusak di desa-desa, memperbaiki jembatan, sarana pendidikan, kesehatan dan berbagai fasilitas umum lainnya yang sangat dibutuhkan masyarakat. Jika itu yang terjadi maka HPN dan kedatangan presiden akan lebih bermakna transformatif daripada hanya sekadar simbolisasi semata. *