Kamis, 19 September 2019

Investor Daily Raih Tajuk Adinegoro 2010

 Persatuan Wartawan Indonesia Persatuan Wartawan IndonesiaPersatuan Wartawan Indonesia

Adinegoro ( 1904 - 1967 )

 

Jakarta (ANTARA News) - Tajuk Rencana harian Investor Daily berjudul  “MENATA KEMBALI INDONESIA” yang dimuat pada hari Senin 1 November 2010, memenangkan penghargaan jurnalistik Anugerah Adinegoro 2010 dari PWI Pusat dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2011.

Dewan juri terdiri atas Atmakusumah Astraatmadja (pengajar kode etik jurnalistik dan hukum pers pada Lembaga Pers Dr. Sutomo), Prof. Tjipta Lesmana (pengamat politik) dan Bachtiar Aly (Ketua Dewan Guru Besar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, Universitas Indonesia), memberikan nilai tertinggi 246 pada tajuk tersebut dalam sidang juri di Jakarta pada 31 Januari 2011.

Menurut Atmakusumah, materi yang diulas dalam tajuk tersebut sangat banyak, semua aktual dan mengulasnya dengan kritis tetapi menggunakan bahasa gabungan bahasa jurnalistik dan bahasa satrawi yang mudah dipahami oleh pembaca.


“Jika saran-saran yang disampaikan dalam tajuk itu dipenuhi oleh para pemimpin negeri ini, maka kehidupan bangsa kita  akan menjadi lebih baik,” kata mantan Ketua Dewan Pers itu.

Sementara itu, Prof DR Bachtiar Aly mengemukakan bahwa keunggulan tajuk itu karena mengangkat substansi yang strategis, menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu melihat persoalan Negara secara komprehensif, bahwa banyak persoalan yang harus ditangani secara professional dan mumpuni.

“Isinya menggugat para pemimpin negara agar lebih peduli terhadap persoalan Negara,” katanya.
 
Bahasanya juga dipuji karena tidak bertele-tele, jernih sehingga semua pembaca akan mempunyai pemahaman yang sama. Tajuk tersebut menyisihkan 80 tajuk lain yang harus dinilai oleh para juri.

Panitia Anugerah Adinegoro 2010 menyediakan hadiah sebesar Rp50.000.000,- bagi peraih Anugerah Adinegoro serta trofi yang akan diserahkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional 2011 yang akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 Februari 2011 di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Anugerah Adinegoro pada tahun ini menilai karya jurnalistik dalam enam kategori yaitu jurnalistik tulis untuk karya jurnalistik berkedalaman (Depth News),  Tajuk Rencana/Opini, Foto Jurnalistik, Karikatur Opini, Jurnalistik Radio dan Jurnalistik Televisi, masing-masing untuk satu pemenang dengan hadiah masing-masing kategori Rp50 juta.

Selain itu juga akan diberikan penghargaan khusus berupa jurnalistik inovasi jurnalisme di Internet (cyberjournalism), dan inovasi jurnalistik infotainmen yang masing-masing untuk satu pemenang dengan hadiah Rp10.000.000,-

Sebelumnya panitia telah mengumumkan pemenang Anugerah Jurnalistik Adinegoro untuk kategori foto  atas Foto jurnalistik berjudul EVAKUASI MERAPI karya Susanto (Media Indonesia), karya jurnalistik karikatur berjudul “Pajak   Warteg” karya Gatot Eko (Suara Pembaharuan), kategori Radio untuk karya  M. Taufik Budi Wijaya berjudul  “Suap di Penjara” (KBR 68 H), jurnalisme inovasi kategori infotainment karya Telni Rusmitantri berjudul “Babak Baru Bambang – Mayang “ (Cek & Ricek).

Pada hari Senin 31 Januari 2011, dewan juri untuk jurnalisme inovasi kategori Cyber Journalism yang terdiri atas Onno W. Purbo (penulis IT), Enda Nasution (praktisi yang berjuluk Bapak Blogger Indonesia) serta Amalia E. Maulana (brand consultant & Etnographer) memilih karya tulis berjudul “Derita di Tanah Sabrang” karya Muhlis Suhaeri yang disiarkan secara on line pada VHRMedia.com pada 23 September – 11 Oktober 2010.

Onno memberi komentar mengenai tulisan tersebut yang dinilainya mampu menggambarkan betapa sulitnya para transmigran menjalani hidup, mengungkap sisi kemanusiaan dan penyajiannya mirip cerita detektif.

Meskipun menggunggulkan karya tersebut, Enda mengkritisi bahwa judul tulisan itu kurang cocok  untuk karakter media on line karena tidak mudah untuk ditelurusi oleh mesin pencari.

Amalia memuji penyajian tulisan yang sangat menarik, menyampaikan kaitan yang luar biasa dari peristiwa masa lalu.

Penghargaan Anugerah Adinegoro diberikan setiap tahun oleh PWI dalam rangka penyelenggaraan Hari Pers Nasional,  dan pada tahun ini ditetapkan untuk tema bebas.

Nama Anugerah Adinegoro mengabadikan nama tokoh pers nasional Djamaludin Adinegoro, (14 Agustus 1904 – 8 Januari 1967) yang semasa muda mengenyam pendidikan jurnalistik di Munchen (Jerman) dan Amsterdam (Belanda)l kemudian kembali ke Tanah Air 0ada tahun 1931 serta menjadi pemimpin redaksi  Pandji Poestaka dan kemudian pemimpin redaksi Pewarta Deli.

Pada tahun 1951 Adinegoro ikut berperan dalam pengambilalihan pimpinan bekas kantor berita Belanda, Aneta yang kemudian diubah menjadi Pers Biro Indonesia-Aneta (PIA), yang tahun 1962 dilebur oleh Presiden Soekarno ke Kantor Berita ANTARA. (*)