Rabu, 18 September 2019

Susanto dari Media Indonesia Raih Foto Adinegoro 2010

Persatuan Wartawan Indonesia
Evakuasi Merapi karya Susanto - Media Indonesia
 
Jakarta (ANTARA News) - Foto jurnalistik "Evakuasi Merapi" karya Susanto dari harian Media Indonesia meraih juara Anugerah Jurnalistik Foto Adinegoro 2010 dan berhak mendapat Rp50 juta dari kegiatan yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu.

Dewan juri Anugerah Jurnalistik Foto Adinegoro 2010 terdiri atas Firman Ichsan (fotografer, Ketua Dewan Kesenian Jakarta/IKJ), Oscar Motuloh (Kurator Galeri Foto Jurnalistik ANTARA/GFJA) dan Enny Nurhaeni (fotografer senior Kantor Berita Reuters) melakukan proses penjurian di Jakarta, Kamis (20/1), demikian keterangan pers PWI Pusat, Kamis.

 

Penilaian ketat dilakukan terhadap 11 karya unggulan, yaitu Pernikahan Terapung (M. Irfan-Media Indonesia), Penonton yang Mirip Gayus (Agus Susanto - Kompas), Berlindung (Maman Sukirman- Seputar Indonesia),  Evakuasi Korban Merapi (Wawan H Prabowo-Kompas).

Selain itu, Kepanikan Pengungsi (Gigih M. Harafi -Harian Jogja), Aktivis Gerakan Menuntut Keadilan Korban Lapindo (Totok Wijayanto - Kompas), Pengadilan (Desmunyoto P Gunadi - Jurnal Nasional), Makam Priok (Yudhi Mahatma- LKBN ANTARA), Demo DPR (Fanny Octavianus - LKBN ANTARA) dan Sidang Lanjutan Gayus (Reno Esni - LKBN ANTARA).

Sebanyak 158 karya foto yang diseleksi itu berasal dari kiriman para peserta maupun hasil pengumpulan oleh panitia atas seluruh karya yang disiarkan oleh media massa di Indonesia sejak Januari hingga 31 Desember 2010.

Panitia Anugerah Adinegoro 2010 menyediakan hadiah sebesar Rp50.000.000 bagi peraih Anugerah Adinegoro serta trofi yang akan diserahkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional 2011 di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), 9 Februari  2011.

Menurut Oscar Motuloh, keunggulan foto Evakuasi Merapi itu karena memiliki nilai berita dengan ketepatan waktu (momentum) yang "pas" serta menunjukkan nilai kemanusiaan yang tinggi.

Foto tersebut menampilkan iring-iringan relawan yang menggendong korban terpaan awan panas dari letusan Gunung Merapi, tubuh korban penuh luka dan relawan maupun korban terbungkus abu, sementara latar belakang memperlihatkan pepohonan dan pondok-pondok yang terbakar oleh awan panas.

"Anugerah Adinegoro adalah menilai aktivitas jurnalistik dan kategori foto ini untuk memilih jurnalistik visual (foto), saya melihat foto Evakuasi Merapi ini mewakili semua aspek penilaian baik dari nilai berita, ketepatan waktu, nilai kemanusiaan dan sisi fotografinya," kata Oscar.

Astrid B.S. Soeryo Adinegoro dari Tim Anugerah Adinegoro menilai bahwa foto-foto yang masuk hampir seluruhnya menampilkan tragedi, bencana, suasana demonstrasi dan kasus hukum.

"Sayang sekali tidak ada karya yang bisa 'mencerahkan' bangsa atau foto yang bisa memberikan gambaran yang membanggakan bangsa Indonesia, padahal dalam kenyataannya banyak orang-orang Indonesia yang bisa mengharumkan nama bangsa, bukan kisah suram saja," kata puteri bungsu Adinegoro itu.

Anugerah Adinegoro pada tahun ini menilai karya jurnalistik dalam enam kategori yaitu jurnalistik tulis untuk karya jurnalistik berkedalaman (Depth News),  Tajuk Rencana/Opini, Foto Jurnalistik, Karikatur Opini, Jurnalistik Radio dan Jurnalistik Televisi, masing-masing untuk satu pemenang dengan hadiah masing-masing kategori semilai Rp50 juta.

Selain itu, juga akan diberikan penghargaan khusus berupa jurnalistik inovasi untuk kategori siaran berita melalui media online  (cyberjournalism) serta berita infotainment masing-masing untuk satu pemenang dengan hadiah Rp10.000.000.

Penilaian atas seluruh kategori saat ini sedang berlangsung secara bertahap dan dijadualkan selesai pada tanggal 1 Februari 2011. Untuk kategori jurnalistik tulis terkumpul 188  karya, tajuk rencana  276  karya,  karikatur 151, jurnalistik televisi 131 karya, jurnalistik, jurnalistik radio 16 karya, cyber journalism 15 karya dan infotainment cetak 80 karya.

Penghargaan Anugerah Adinegoro diberikan setiap tahun oleh PWI dalam rangka penyelenggaraan Hari Pers Nasional. Nama Adinegoro mengabadikan tokoh pers nasional Djamaludin Adinegoro, (14 Agustus 1904 - 8 Januari 1967) yang semasa muda mengenyam pendidikan jurnalistik di Munchen (Jerman) dan Amsterdam (Belanda), kemudian kembali ke Tanah Air pada tahun 1931 serta menjadi Pemimpin Redaksi  Pandji Poestaka dan kemudian Pemimpin Redaksi Pewarta Deli.

Pada tahun 1951 Adinegoro ikut berperan dalam pengambilalihan pimpinan bekas kantor berita Belanda, Aneta, yang kemudian diubah menjadi Pers Biro Indonesia-Aneta (PIA), dan Presiden Soekarno pada 1962 meleburnya ke Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA pada 1962. (*)