Kamis, 19 September 2019

Alif Husada dan Wartawan Pamekasan Saling Lapor

Pamekasan (ANTARA News) - Akademi Kabidanan (Akbid) Aifa Husada dan wartawan Pamekasan, Madura, Jawa Timur, saling lapor terkait kasus kericuhan antara kedua belah pihak saat liputan kesurupan di lembaga itu Sabtu (15/1).

Juru bicara wartawan Pamekasan, Nadi Mulyadi, Kamis, menyatakan, pada Jumat (21/1) pihaknya akan melaporkan pihak Aifa Husada ke Mapolres Pamekasan terkait aksi pengusiran yang dilakukan lembaga itu saat mereka hendak meliput kesurupan yang menimpa mahasiswa Akbid.

"Laporan yang akan kami sampaikan besok ini sebagai tindak lanjut dari somasi yang disampaikan wartawan sebelumnya," kata Nadi yang juga Ketua Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) itu.

 

Dalam surat somasi bernomor: 007/AJP/A.1/2011, tertanggal 18 Januari 2011 yang ditandatangani Nadi Mulyadi selaku ketua dan Taufiqurrahman selaku sekretaris itu, AJP meminta pihak Aifa Husada meminta maaf secara terbuka atas tindakannya menghalang-halangi tugas jurnalistik di lapangan.

Bahkan, dalam surat itu juga dinyatakan, jika dalam waktu tiga hari pihak Aifa Husada tidak bersedia meminta maaf, maka AJP akan melaporkan ke polisi.

"Jadi laporan yang akan kami sampaikan besok ini sebagai tindak lanjut dari somasi sebelumnya, bukan karena laporan pihak Aifa Husada ke polisi," terang Nadi Mulyadi.

Sementara pihak Aifa Husada sendiri telah melaporkan tiga orang wartawan Pamekasan dari sebanyak delapan orang yang ikut meliput kejadian peristiwa kesurupan di Akbid Aifa Husada pada Sabtu (15/1) itu.

Ketika wartawan yang dilaporkan itu masing-masing wartawan Jawa Pos Group (Radar Madura), Nadi Mulyadi, reporter JTV Madura Ahmad Baihaki dan kontributor RCTI Dedy Priyanto.

"Laporan yang disampaikan kepada kami ketiga wartawan ini masuk pekarangan pihak lain tanpa izin," kata Kait Idik III Polres Pamekasan  Iptu Ichwan Rosyidi.

Selain wartawan, seorang anggota Intel Polres Pamekasan, Andy Galib juga dilaporkan pihak Aifa Husada dengan tuduhan yang sama, yakni masuk pekarangan orang lain tanpa izin pemiliknya.

Padahal, menurut Dedy Priyanto, saat dirinya bersama sejumlah wartawan lain masuk ke halaman kampus Akbid tidak ada petugas yang berjaga-jaga di pintu masuk.

"Dan kami ketika itu tidak langsung masuk, melainkan menunggu lebih dahulu di lokasi parkir kendaraan," katanya menjelaskan.

Dari tiga orang wartawan yang dilaporkan ke jajaran Polres Pamekasan dengan tudingan telah melakukan tindak pidana masuk ke pekarangan orang lain itu dua diantara telah diperiksa tim penyidik, yakni Nadi Mulyadi dan Dedy Priyanto. Sedangkan Ahmad Baihaki masih akan diperiksa Jumat (21/1).

Pemeriksaan terhadap kedua wartawan ini berlangsung selama sekitar 3 jam di ruang Kanit Idik III Polres Pamekasan.

Mereka dicecar sebanyak 23 pertanyaan seputar peristiwa ricuh antara wartawan dengan pihak Satpam Kampus saat liputan kesurupan mahasiswa Akbid pada 15 Januari lalu itu.

Sebelumnya Ketua Yayasan Aifa Husana Sajali menyatakan, terpaksa melaporkan sejumlah wartawan saat melakukan liputan kesurupan di kampusnya itu karena perbuatan mereka dianggap melanggar hukum.

"Bukan kami yang salah, tapi wartawan yang salah masuk rumah orang tanpa izin, ingat itu," kata Sajali melalui saluran telepon.

Pria yang mengaku sebagai koordinator LSM se-Madura dan mengklaim memiliki banyak relasi di Polda Jatim dan Mabes Polri dalam sebuah wawancara telepon dengan wartawan Pamekasan juga meminta agar perlakuan wartawan atas peristiwa yang terjadi di kampus Akbid Aifa Husada itu dibedakan dengan kampus-kampus lain di Pamekasan.

"Tolong diperhatikan ini dan sampaikan kepada ketuanya. Saya, Sajali, doktor hukum, juga dosen di Jawa Timur. Kalau wartawan tidak masuk penjara, jangan kenal Sajali lagi," katanya dengan nada tinggi. (*)