Sabtu, 23 November 2019

"Suap di Penjara" 68H Raih Adinegoro Radio 2010

Jakarta (PWI News) -  Karya jurnalistik radio, "Suap di Penjara", karya  M.Taufik Budi Wijaya dari radio KBR 68 H meraih Anugerah Adinegoro 2010 yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional 2011.

Dewan juri Anugerah Adinegoro untuk kategori radio adalah Indrawadi Tamin (dekan Fikom Universitas Esa Unggul), Artini Soepomo (dosen pada London Scholl Public Relations) dan Helena Olii Waharsono (praktisi media radio) , demikian siaran Panitia Anugerah Adinegoro Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat di Jakarta, Selasa.

 

Dalam sidang dewan juri pada Senin, 24 Januari 2011 di kantor PWI  menetapkan karya jurnalisitk radio berjudul "Suap Di Penjara" tersebut  mengumpulkan nilai sebanyak 171,1 sehingga dinyatakan sebagai pemenang dengan menyisihkan  15 karya jurnalistik lain yang masuk ke meja panitia.

Berita radio Suap Di Penjara tersebut disiarkan dalam rubrik SAGA program KBR 68 H melalui FM 89,2 Gree Radio pada Kamis 26 November 2010 pukul 07.45-08.00 WIB.

Penilaian ketat dilakukan terhadap  lima karya lain, yaitu Vila Bodong Para Penggede (KBR 68 H/Green Radio),  Laporan Kelangkaan Gula (SMART FM),  Sumeh, Bertahan Di Tengah Badai Budaya Asing (Radio Mayangkara) dan Membekuk Pedagang Harimau Sumatera (KBRH Jambi).

Sebanyak 16 karya jurnalistik radio yang diseleksi itu berasal dari kiriman para peserta  dan merupakan karya jurnalistik  yang disiarkan  sejak Januari hingga 31 Desember 2010.

Panitia Anugerah Adinegoro 2010 menyediakan hadiah sebesar Rp50.000.000  bagi peraih Anugerah Adinegoro serta trofi yang akan diserahkan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional 2011 pada tanggal 9 Februari di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Menurut salah seorang juri Indrawadi Tamin, materi dalam Suap Di Penjara tersebut  mengangkat tema yang aktual, dan membuktikan bahwa radio dekat dengan masyarakat.

"Penyajiannya radio banget," kata juri lainnya Artini Supomo dengan menjelaskan bahwa gaya jurnalistik yang digunakan memang memakai pendekatan jurnalistik radio.

Sementara itu Helena Olii menjelaskan bahwa dibandingkan dengan karya yang lain, maka karya Taufik  Budi Wijaya ini menggunakan bahasa bertutur yang memang menjadi ciri khas bahasa radio.

"Penyampaiannya bercerita sehingga membuat pendengar terlena serta menggugah rasa ingin tahu untuk mendengar terus sampai selesai," kata Helena.

Para juri menilai bahwa banyak karya jurnalistik radio yang penyajiannya memakai bahasa tulis dan dibacakan, sehingga tidak bisa membuat  pendengarnya "terhanyut" mendengarkan.

Anugerah Adinegoro pada tahun ini menilai karya jurnalistik dalam enam kategori yaitu jurnalistik tulis untuk karya jurnalistik berkedalaman (Depth News), tajuk rencana/opini, juga foto jurnalistik, karikatur opini, jurnalistik radio dan jurnalistik televisi, masing-masing untuk satu pemenang dengan hadiah bagi tiap kategori Rp50 juta.

Selain itu juga akan diberikan penghargaan khusus berupa jurnalistik inovasi untuk kategori siaran berita melalui media on line  (cyber journalism) serta berita infotainment masing-masing untuk satu pemenang dengan hadiah Rp10.000.000,-

Penilaian atas seluruh kategori saat ini sedang berlangsung secara bertahap dan dijadualkan selesai pada tanggal 1 Februari 2011.

Untuk kategori jurnalistik tulis terkumpul 188  karya, tajuk rencana  276  karya,  karikatur 151, jurnalistik televisi 131 karya, jurnalistik, jurnalistik radio 16 karya, cyber journalism 15 karya dan infotainment cetak 80 karya.

Penghargaan Anugerah Adinegoro diberikan setiap tahun oleh PWI dalam rangka penyelenggaraan Hari Pers Nasional, pada tahun ini lomba jurnalistik ditetapkan dengan tema bebas.

Nama Anugerah Adinegoro mengabadikan nama  tokoh pers nasional Djamaludin Adinegoro, (14 Agustus 1904-8 Januari 1967) yang semasa muda mengenyam pendidikan jurnalistik di Munchen (Jerman) dan Amsterdam (Belanda), kemudian ketika kembali ke Tanah Air pada tahun 1931 menjadi pemimpin redaksi  Pandji Poestaka dan kemudian pemimpin redaksi Pewarta Deli. (*)