Minggu, 15 Desember 2019

Wartawan Merauke TV Tewas Jelang Pilkada

Jayapura (ANTARA News) - Jelang Pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Papua, salah seorang wartawan Merauke TV ditemukan tewas dianiaya pada Jumat.

Menurut informasi yang dikumpulkan ANTARA News dari Merauke, korban tewas itu diketahui bernama Ardiansyah. Jenasah ditemukan terapung di Sungai Gudang Arang  dalam kondisi telanjang dengan tangan terikat.

Korban pertama kali ditemukan  pihak keluarga yang dibantu oleh anggota TNI 755 Merauke. Saat ini jenasah masih berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Merauke untuk diotopsi.

Ardiansyah pernah bertugas sebagai wartawan tabloid Jubi, kontributor ANTV, dan Merauke TV.

Jojo, Pemred Koran Rajawali, mengatakan bahwa sebelum tewasnya wartawan Merauke TV memang akhir-akhir ini banyak beredar ancaman terhadap wartawan setempat melalui SMS atau pesan singkat yang diduga terkait proses pilkada yang berlangsung di Bumi Animha.

"Dalam pesan singkat itu, wartawan diancam dibunuh dan tidak akan ada tindakan dari polisi dan TNI. Beberapa wartawan telah melaporkan kasus ini ke Polres Merauke," katanya.

Dia mengakui, dengan beredarnya pesan singkat itu para jurnalis yang bertugas di Merauke, Provinsi Papua merasa tidak tenang menjalankan tugasnya karena diancam akan dibunuh. Pengancaman yang diterima melalui pesan singkat atau SMS ini sudah terjadi sejak beberapa hari ini.

Menurut dia, SMS ancaman ini diduga kuat terkait pemilihan kepala daerah yang sedang berlangsung di Merauke. Selain mengancam wartawan, isi dari pesat singkat itu juga merendahkan kinerja Polisi dan TNI setempat.

Sementara itu, Sekretaris PWI Provinsi Papua Leo Siahaan mengharapkan kasus yang menimpa korban bukan akibat pemberitaan.

"Saat ini kami masih melakukan koordinasi dengan PWI cabang Merauke untuk menggali informasi yang akurat," katanya.

Berikut salah satu SMS berisi ancaman yang diterima wartawan: "Para wartawan pengecut jangan pernah bermain api kalautmau terbakar. Karena api akan membakar sekujur tubuh.Kalau masih mau makan di tanah ini, jangan membuat aneh.Kami sudah mendata kalian semua dan bersiap-siaplah untuk dibantai."