Kamis, 19 September 2019

Beasiswa Paramadina bagi Wartawan

Jakarta (ANTARA News) - Paramadina kembali memberi beasiswa "Paramadina Fellowship" bagi wartawan dan aktivis organisasi

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mempunyai reputasi untuk melanjutkan studi mereka di tingkat pascasarjana.

"Pada semester ini Paramadina menyediakan lagi 10 beasiswa bagi mereka," kata Direktur Marketing & Humas Universitas Paramadina, Syafiq Basri Assegaff dalam siaran pers yang diterima ANTARA News di Jakarta, Kamis malam.

Tapi, mereka harus siap berkompetisi karena peminatnya cukup banyak, ujar Syafiq.

Bidang studi program magister yang menjadi pilihan mereka adalah Strategic Finance, Bisnis Keuangan Islam, Diplomasi, Komunikasi Politik, dan Komunikasi Perusahaan.

Untuk kuliah yang akan dimulai September mendatang, tenggat pendaftaran adalah 15 Juli 2010. Jika lolos seleksi, para wartawan dan aktivis LSM itu dapat melanjutkan studi mereka secara gratis hingga meraih gelar master dari Paramadina dalam jangka waktu satu setengah tahun (3 semester) di Kampus Paramadina Graduate Schools (PGS)

(http://gradschool.paramadina.ac.id/)  di gedung The Energy, kawasan bisnis SCBD, Jakarta .
Saat ini terdapat 25 wartawan dan aktivis LSM tengah menyelesaikan studi pascasarjana ini. Para wartawan di antaranya berasal dari LKBN  Antara,  harian Republika, Seputar Indonesia, Pikiran Rakyat, Bisnis Indonesia, Detik.Com, majalah Nirmala, dan Metro TV.

"September ini enam di antara mereka memasuki semester terakhir dan 19 lainnya menginjak semester kedua," kata Syafiq.

Menurut dia, sumber dana beasiswa di PGS ini datang dari Indika Energy Foundation dan Medco Foundation,  dua lembaga nasionalyang peduli pada kemajuan pendidikan di Indonesia.

Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan mengatakan bahwa pihaknya secara serius mengembangkan kegiatan pemberianbeasiswa (fellowship) bagi mahasiswa yang berprestasi namun membutuhkan bantuan biaya.

Di antara hal yang unik di PGS, kata Anies, adalah materi perkuliahan yang up-to-date, metode pengajaran aktif dan penuhinteraksi.

"Selain itu, ada peluang luas bagi mahasiswa untuk melakukan eksplorasi dan jejaring dengan berbagai pihak yang kerap hadirmemberikan perkuliahan atau diskusi tentang isu terkini," kata Anies.

Di antara tokoh yang mengajar di PGS adalah Makarim Wibisono, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Rizal Sukma, Ananda Siregar,Sandiaga Uno, Patrick Walujo dan Aditya M Chandra. Dalam program tertentu mantan Presiden M.Jusuf Kalla dan tokoh televisi Ishadi SK juga memberikan kuliah khusus di kampus PGS.

Adanya sejumlah praktisi ternama yang telibat dalam program pascasarjana itu, menurut Anies, akan menjamin para mahasiswatidak hanya belajar teori, tetapi juga praktis, dan kebajikan.

"Dan, yang tidak kalah penting, adalah kesempatan membangun jejaring dengan para tokoh tersebut," tambahnya.

Menurut Anies, kolaborasi antara dunia swasta dan pendidikan sangatlah penting karena tugas untuk mendidik bangsa adalahtugas maha berat yang tidak bisa dipikul sendirian oleh pemerintah. Potensi masyarakat hanya bisa naik ke tingkat yang lebihtinggi bila didukung pendidikan yang baik.

Mereka perlu mendapatkan "escalator" untuk secara bersama-sama merambah ke level di atasnya. Untuk itu, peran swasta bisamempercepat terwujudnya sejumlah besar sumber daya manusia yang lebih terdidik dan mampu bersaing di dunia internasional, demikian Anies. (*)