Rabu, 18 September 2019

Berita Pemilu Diharapkan Hilangkan Konflik

Jakarta (ANTARA News) - Menko Polhukam Widodo AS mengharapkan media massa menyajikan berita-berita mengenai pemilihan umum (pemilu) yang dapat mengeliminir potensi-potensi konflik dalam masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Widodo AS dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekretaris Menko Polhukam Letjen TNI R.R. Simbolon di Jakarta, Rabu, ketika membuka diskusi Forum Koordinasi dan Konsultasi yang diselenggarakan Kantor Menko Polhukam.

Diskusi Forum Koordinasi dan Konsultasi mengambil tema "Peran Strategis Media Massa Dalam Pemilu 2009 Sebagai Refleksi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang Demokratis".

"Dengan demikian, media massa diharapkan dapat mengambil peran untuk ikut menjaga harmoni sosial masyarakat pada tahap persiapan, pelaksanaan dan pasca pemilu," katanya.

Dikatakannya, sejarah membuktikan bahwa media massa telah memberikan peran besar dalam perjalanan bangsa sejak awal proklamasi hingga era reformasi.

Bersama dengan komponen bangsa lainnya, media massa dinilai mampu memberikan kontribusi dalam perjuangan bangsa, menegakkan eksistensi negara, mencerdaskan dan memberikan pencerahan terhadap kehidupan masyarakat.

Sukses pelaksanaan Pemilu 2009 tidak hanya terletak pada optimalisasi kinerja KPU, Bawaslu, partai politik, kedewasaan para calon dan partisipasi aktif pemilih, tetapi tidak kalah pentingnya adalah peran strategis media massa.

Dalam Pemilu 2009, katanya, media massa akan "dibanjiri" iklan-iklan politik, baik dari peserta pemilu atau dari lawan-lawan politiknya.

Hal itu, lanjutnya, di satu sisi dapat menguntungkan media massa tetapi di sisi lain dikhawatirkan bisa mengingkari kewajiban media massa untuk memenuhi hak rakyat mengetahui informasi.

"Namun, saya percaya bahwa Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia akan mampu mencegah dan mengawasi hal tersebut karena UU Nomor 10 Tahun 2008 (tentang Pemilu) telah menugaskannya," kata Widodo AS seperti disampaikan Sesmenko Polhukam Romula R Simbolon.

Pembicara dalam diskusi tersebut adalah anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Bimo Nugraha, Ketua Dewan Pers Ichlasul Amal, wartawan senior yang juga Penasihat Korporasi Media Group Djafar Hussein Assegaff, dengan moderator mantan Ketua Umum PWI Tarman Azam. (*)