Minggu, 15 Desember 2019

Wartawan Purwakarta Kecam Kekerasan Terhadap Pers

Purwakarta (ANTARA News) - Puluhan wartawan yang tergabung dalam Solidaritas Wartawan Purwakarta, Jawa Barat menggelar unjuk rasa di bundaran BTN, jalan Sudirman  mengecam aksi kekerasan terhadap rekan mereka.

Dalam aksinya pada Rabu, pengunjuk rasa yang terdiri dari wartawan media cetak dan elektronik, lokal maupun nasional melakukan orasi secara bergantian, membentangkan spanduk, dan melakukan aksi teatrikal.

Salah seorang pengunjuk rasa, Riva yang merupakan wartawan Radar Karawang, mengatakan, aksi kekerasan terhadap wartawan itu merupakan bentuk dari aksi premanisme serta pengekangan kebebasan pers.

"Kami mengutuk aksi kekerasan terhadap wartawan, apapun bentuknya. Karena itu, aparat terkait harus mengusut aksi kekerasan yang menimpa Sigit Ernowo (wartawan Radar Karawang) dan pelaku kekerasan yang menimpa seorang wartawan televisi di Ambon, beberapa waktu lalu," kata Riva.

Dikatakannya, aksi yang digelar di Purwakarta itu merupakan aksi spontan dari wartawan yang bertugas di Purwakarta, dalam mengecam aksi kekerasan terhadap rekan mereka.

"Kita harapkan pada waktu-waktu ke depan tidak akan ada lagi wartawan yang menjadi korban kekerasan," ujarnya. 

Aksi kekerasan yang menimpa Sigit itu sendiri terjadi saat ia tengah meliput acara perpisahan di SMA Negeri 1 Rengasdengklok, Sabtu (8/5). 

Usai melakukan wawancara di tempat itu, tiba-tiba Sigit diajak salah seorang pelaku sambil tangan kanan pelaku menjepit leher korban, menuju sekitar pos satuan pengaman (Satpam) sekolah itu, sambil menggesek-gesek kepalan tangan pelaku di pelipis kiri wajah korban.

Menduga himpitan tangan pelaku ada rencana berbuat jahat, korban langsung menepis tangan pelaku sebanyak dua, kali hingga akhirnya terlepas.

Tetapi, secara tak diduga, dua rekan pelaku yang datang bersamaan langsung menendang Sigit hingga korban tersungkur.

Kemudian korban berusaha membela diri dengan menepis pukulan yang mengarah ke arah wajahnya. Kejadian itu berhenti setelah Satpam di sekolah itu memisahkan korban dan para pelaku. Kasus ini tengah ditangani kepolisian setempat. (*)