Senin, 20 Januari 2020

Wartawan di Morowali Diintimidasi Preman

Palu (ANTARA News) - Sejumlah wartawan yang bertugas di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, mengaku diintimidasi oleh sekelompok preman, menyusul pengeroyokan terhadap seorang jurnalis setempat pada Kamis (26/2).

Pengakuan tersebut salah satunya dilontarkan koresponden Harian Garda Sulteng di Morowali, Muhammad Zein.

Dia mengemukakan, keberadaan preman tersebut sangat meresahkan tugas-tugasnya saat meliput di lingkungan Pemda Morowali. "Kami merasa selalu dihantui oleh gerak-gerik para 'preman' setelah terjadinya kasus pemukulan terhadap rekan kami," ujar Zein yang dihubungi dari Morowali, Senin (2/3).

Apalagi, dalam beberapa hari terakhir ini dirinya dan beberapa rekan wartawan lainnya sering menulis di media masing-masing terkait dengan beberapa permasalahan di Pemda Morowali, terutama masalah izin  pengelolaan tambang, yang wilayahnya diduga menyerobot tanah warga.

Pada Kamis (26/2) lalu, Muhidin (28), koresponden salah satu harian lokal di Sulteng, dianiaya sekitar lima orang preman, usai mewawancarai Bupati Morowali Anwar Hafid di kantornya di Jalan Fomuasingko.

Penganiayaan terjadi setelah Muhidin dan beberapa wartawan lainnya mewawancarai bupati, seputar tuntutan warga terkait dengan pemekaran kabupaten Morowali Utara dan pembentukan 'desk' pemilu.

Oleh karena merasa tersingggung dengan pertanyaan Mudihin mengenai 'desk' pemilu yang belum dibentuk pemda, maka bupati marah, yang disusul dengan pengeroyokan oleh beberapa preman yang berada di sekitar bupati. Para preman menyeret tangan dan kerah baju Muhidin sambil menganiaya korban.

Aksi penganiayaan itu berlangsung sekitar lima menit, dan baru reda setelah bupati berteriak meminta para preman menghentikan aksinya.

Menurut para wartawan di Morowali, mereka yang mengeroyok Muhidin adalah pengawal Bupati Morowali Anwar Hafid.

Tak hanya para wartawan yang terintimidasi oleh keberadaan preman tersebut, tetapi sejumlah Lembaga Swadaya Masyrakat (LSM) dan warga yang biasa melakukan aksi demontrasi di kantor bupati juga sering merasakan hal yang sama.

Hal itu diakui koordinator Komite Bersama Pemuda Morowali/KMBP, Kristo, bahwa dirinya selalu mendapat intimidasi dari para preman yang diduga suruhan Bupati Morowali Anwar Hafid.

"Setiap kami melakukan aksi demo, banyak preman yang mengintimidasi kami berupa ancaman pemukulan dan hal lainnya," ujarnya.

Sampai saat ini belum dapat diperoleh keterangan, apakah preman tersebut adalah suruhan bupati atau bukan, karena beberapa pejabat setempat tidak bersedia berkomentar. (*)