Senin, 20 Januari 2020

Wartawan Gelar Solidaritas Terhadap Prabangsa

Banyuwangi (ANTARA News) - Jurnalis Banyuwangi, Jatim, menggelar aksi solidaritas keprihatinan di depan kantor Bupati setempat, Rabu, atas meninggalnya redaktur harian Radar Bali, Anak Agung Prabangsa (44).

Hamsim, kordinator aksi, mengatakan, jurnalis Banyuwangi mengaku prihatin atas kejadian yang menimpa A.A. Prabangsa. "Insan pers Banyuwangi mengutuk aksi premanisme. Hentikan aksi premanisme terhadap pers!," kata reporter radio VIS FM tersebut.

Sekitar 20 jurnalis di Banyuwangi dari berbagai media massa, membawa poster yang berisi kecaman aksi premanisme terhadap wartawan. Perekam suara dan kamera milik sebagian wartawan diletakkan di jalan A. Yani. sebagai simbol kebebasan pers yang masih jauh dari harapan.

Setelah puas berorasi di depan Kantor Bupati, jurnalis Banyuwangi mendatangi Mapolres setempat. Mereka ditemui Kapolres Banyuwangi, AKBP. Rachmat Mulyana. Dalam pertemuan tersebut, Hamsim meminta polisi mengusut tuntas kasus kematian A.A. Prabangsa.

"Insan pers Banyuwangi meminta polisi mengusut tuntas kasus kematian redaktur harian Radar Bali. Serta menghentikan aksi premanisme terhadap jurnalis," kata Hamsim menegaskan.

Rachmat mengatakan, sesuai program Kapolri, Jenderal Pol. Bambang Hendarso Danuri yang memberantas aksi premanisme, maka kasus yang menimpa A.A. Prabangsa harus diusut tuntas oleh polisi yang bertugas di sana.

"Polisi dituntut profesional dan proposional dalam setiap tindakan. Polisi yang tidak setuju, ya lepas saja atribut polisi terus kembali menjadi orang sipil," katanya.

Rachmat menegaskan, kasus kematian yang tidak wajar akan diusut oleh polisi. "Siapa saja yang meninggalnya tidak wajar, akan diusut oleh polisi. Termasuk meninggalnya A.A. Prabangsa yang terdapat hantaman benda tumpul di bagian batok kepalanya," katanya.

Prabangsa ditemukan tewas mengambang di permukaan laut di perairan dekat Pantai Padangbai, Kabupaten Karangasem, Bali bagian timur, Senin (16/2), dengan kondisi mengenaskan yang diduga kuat akibat penganiayaan. (*)