Selasa, 22 Oktober 2019

PWI Anugerahi Alm BJ Habibie Bapak Kemerdekaan Pers Indonesia

Ceknricek.com -- Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menyerahkan penghargaan “Bapak Kemerdekaan Pers Indonesia” kepada almarhum Prof. DR BJ Habibie, Senin (16/9) siang. Penghargaan itu diserahkan oleh ketua umum PWI Atal Depari dan diterima oleh DR Ilham Habibie, putra tertua almarhum.

Penyerahan penghargaan berlangsung di Perpustakaan “Ainun Habibie” dalam komplek rumah Presiden ke-3 RI itu, di Jalan Patra Kuningan, jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Hadir dalam acara itu Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Ilham Bintang, Sekjen PWI Mirza Zulhadi, dan beberapa pengurus PWI  antaranya, Asro Kamal Rokan, Ahmad Munir, Abdul Azis, Yoga, Prapto.

 


 

Sebelum ini, almarhum Prof BJ Habibie memang pernah menerima Medali Kemerdekaan Pers yang dipersembahkan oleh masyarakat pers pada Hari Pers Nasional 2013 di Manado, Sulawesi Utara.

 

Atal S Depari menegaskan medali dan penghargaan yang sekarang berbeda. Medali Kemerdekaan Pers bukan hanya kepada BJ Habibie, tetapi kepada banyak tokoh yang dianggap berjasa kepada perkembangan pers kita. Sedangkan penghargaan Bapak Kemerdekaan Pers Indonesia hanya untuk satu tokoh, dan itu berlaku untuk selamanya. 

“Tidak ada tokoh lain selain Pak Habibie. Beliaulah yang di awal menjabat sebagai Presiden RI langsung mencabut semua peraturan yang membelenggu pers. Termasuk mencabut ketentuan yang menjadikan PWI sebagai satu-satunya organisasi wartawan pada masa itu. Mencabut peraturan yang mengharuskan izin untuk menerbitkan media pers, “ jelas Atal.

Pada masa jabatan Habibie juga lahir UU Pers no 40/1999 yang memberi kepastian hukum pada kemerdekaan pers. Pers tidak lagi mengenal tindak pelarangan, penghapusan dan pembredelan. Pendek kata sejak itu pers memiliki kebebasan menentukan arah perkembangan bangsa, dan memperkokoh demokratisasi di segala bidang.

Pada masa pemerintahan Pak Habibie, pernah ada usaha segelintir pihak istana yang mencoba mereduksi kemerdekaan pers. Yaitu mengusulkan agar wartawan harus memiliki  izin ketrampilan, semacam SIM bagi pengemudi yang mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya. Tapi Pak Habibie tidak setuju. Gagasan itu pun langsung kempes. 

“Beliau memang ingin memberi peran besar bagi pers sebagai pilar penting demokrasi,“ kata Ilham Habibie setelah menerima trophy sebagai simbol penghargaan dari PWI.

 

Di akhir acara Ilham Bintang mengajak Ilham Habibie foto berdua dalam pose “salam komando". “Wah asyik juga ini foto Duo Ilham. Yang, satu ada bintangnya lagi,” respons Ilham sambil bergurau.

Dalam kesempatan itu Pengurus PWI tidak lupa menyampaikan rasa belasungkawa sedalam-dalamnya atas wafatnya Pak Habibie. Seperti diketahui, tokoh kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 itu mengembuskan nafas terakhir di RSPAD Gatot Subroto Jakarta, Kamis (11/9) pukul 18.05 WIB. Jenazah dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, keesokan harinya, Jumat (12/9) siang. Semoga almarhum Husnul Khotimah. Diberi tempat lapang, nyaman, dan indah disisiNya.